Pasal 1 KHI: Terminologi Fundamental dalam Kompilasi Hukum Islam

Pasal 1 Kompilasi Hukum Islam menyatakan:

Yang dimaksud dengan:

a. Peminangan ialah kegiatan kegiatan upaya ke arah terjadinya hubungan perjodohan antara seorang pria dengan seorang wanita;

b. Wali hakim ialah wali nikah yang ditunjuk oleh Menteri Agama atau pejabat yang ditunjuk olehnya, yang diberi hak dan kewenangan untuk bertindak sebagai wali nikah;

c. Akad nikah ialah rangkaian ijab yang diucapkan oleh wali dan kabul yang diucapkan oleh mempelai pria atau wakilnya disaksikan oleh dua orang saksi;

d. Mahar adalah pemberian dari calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita, baik berbentuk barang, uang atau jasa yang tidak bertentangan dengan hukum Islam;

e. Taklil-talak ialah perjanjian yang diucapkan calon mempelai pria setelah akad nikah yang dicantumkan dalam Akta Nikah berupa Janji talak yang digantungkan kepada suatu keadaan tertentu yang mungkin terjadi dimasa yang akan datang;

f. Harta kekayaan dalam perkawinan atau Syirkah adalah harta yang diperoleh baik sendiri-sendiri atau bersama suami-isteri selama dalam ikatan perkawinan berlangsung selanjutnya sisebut harta bersama, tanpa mempersoalkan terdaftar atas nama siapapun;

g. Pemeliharaan atak atau hadhonah adalah kegiatan mengasuh, memelihara dan mendidik anak hingga dewasa atau mampu berdiri sendiri;

h. Perwalian adalah kewenangan yang diberikan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan hukum sebagai wakil untuk kepentingan dan atas nama anak yang tidak mempunyai kedua orang tua, orang tua yang masih hidup, tidak cakap melakukan perbuatan hukum;

i. Khuluk adalah perceraian yang terjadi atas permintaan isteri dengan memberikan tebusan atau iwadl kepada dan atas persetujuan suaminya;

j. Mutah adalah pemberian bekas suami kepada isteri, yang dijatuhi talak berupa bendaatau uang dan lainnya.

Penjelasan:

Pasal 1 Kompilasi Hukum Islam (KHI) merupakan ketentuan definitorial yang memiliki fungsi sangat fundamental dalam konstruksi hukum keluarga Islam di Indonesia, sebab pasal ini tidak hanya memberikan batasan terminologis, melainkan juga membentuk kerangka konseptual terhadap keseluruhan bangunan hukum munākahāt (المناكحات), ahwāl syakhṣiyyah (الأحوال الشخصية), dan relasi keperdataan keluarga dalam sistem Peradilan Agama. Ketentuan tersebut merefleksikan proses taqnīn al-fiqh (تقنين الفقه), yakni transformasi norma fiqh ke dalam bentuk hukum positif nasional.

a. Peminangan (الخطبة / al-khiṭbah)

Peminangan atau al-khiṭbah merupakan tahap pra akad nikah yang secara fiqh dipahami sebagai ṭalab al-tazwīj (طلب التزويج), yakni permohonan atau pernyataan kehendak untuk menikahi seorang perempuan. Dalam hukum Islam, khiṭbah bukan akad yang mengikat secara mutlak, melainkan muqaddimah al-nikāḥ (مقدمة النكاح) atau pendahuluan menuju perkawinan.

Dasar ushul fiqhnya berkaitan dengan prinsip:
الوسائل لها أحكام المقاصد
(al-wasā’il lahā aḥkām al-maqāṣid)
yang berarti sarana mengikuti hukum tujuan.

Karena perkawinan merupakan akad suci (الميثاق الغليظ / al-mīthāq al-ghalīẓ), maka proses menuju akad juga harus dijaga dengan prinsip kehati-hatian, kepatutan, dan perlindungan martabat para pihak.

Asas terkait:

  1. Asas Kesukarelaan (consensual principle).
  2. Asas Kepastian Kehendak.
  3. Asas Itikad Baik (ḥusn al-niyyah / حسن النية).
  4. Asas Perlindungan Martabat Perempuan.

b. Wali Hakim (ولي الحاكم / walī al-ḥākim)

Wali hakim merupakan bentuk wilāyah al-sulṭān (ولاية السلطان), yaitu kewenangan negara dalam mengambil alih fungsi perwalian nikah ketika wali nasab tidak ada, tidak memenuhi syarat, ghaib, atau menolak tanpa alasan syar‘i (wali ‘aḍal).

Kaedah fiqhnya:
السلطان ولي من لا ولي له
(al-sulṭān waliyyu man lā waliya lah)
yang berarti penguasa menjadi wali bagi orang yang tidak memiliki wali.

Konsep ini menunjukkan bahwa negara dalam hukum Islam memiliki fungsi ḥimāyah (حماية) dan siyāsah syar‘iyyah (السياسة الشرعية) untuk menjamin terlaksananya hak-hak keperdataan masyarakat.

Asas terkait:

  1. Asas Perlindungan Hak Perempuan.
  2. Asas Kemanfaatan (maṣlaḥah / المصلحة).
  3. Asas Kepastian Hukum.
  4. Asas Intervensi Negara demi Keadilan.

c. Akad Nikah (عقد النكاح / ‘aqd al-nikāḥ)

Akad nikah merupakan inti dari hubungan perkawinan dalam Islam yang dibangun melalui ijāb dan qabūl (إيجاب وقبول). Akad ini termasuk al-‘uqūd al-musammāh (العقود المسماة), yaitu akad bernama yang telah ditentukan syarat dan rukunnya oleh syara‘.

Dalam fiqh, akad nikah dipandang sebagai:
ميثاق غليظ
(mīthāqan ghalīẓan)
yakni perjanjian yang sangat kuat dan sakral.

Konsep ushul fiqhnya berkaitan dengan:
الأصل في العقود التراضي
(al-aṣl fī al-‘uqūd al-tarāḍī)
yang berarti pada dasarnya akad harus dilandasi kerelaan para pihak.

Saksi dalam akad nikah juga mencerminkan prinsip i‘lān al-nikāḥ (إعلان النكاح), yakni publikasi perkawinan agar terhindar dari praktik nikah sirri dan sengketa nasab.

Asas terkait:

  1. Asas Konsensualitas.
  2. Asas Kepastian Status Hukum.
  3. Asas Publisitas.
  4. Asas Kesucian Perkawinan.

d. Mahar (المهر / al-mahr atau الصداق / al-ṣadāq)

Mahar merupakan pemberian wajib dari calon suami kepada calon isteri sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan perempuan, bukan harga atau kompensasi atas perempuan.

Al-Qur’an menggunakan istilah:
وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً
yang menegaskan bahwa mahar diberikan secara sukarela dan terhormat.

Dalam fiqh, mahar berkaitan dengan:
تكريم المرأة
(takrīm al-mar’ah)
yakni penghormatan terhadap perempuan.

Asas terkait:

  1. Asas Kepatutan dan Keadilan.
  2. Asas Penghormatan terhadap Martabat Perempuan.
  3. Asas Kerelaan.
  4. Asas Keseimbangan Hak dan Kewajiban.

e. Taklik Talak (تعليق الطلاق / ta‘līq al-ṭalāq)

Taklik talak merupakan talak yang digantungkan pada syarat tertentu di masa mendatang. Dalam fiqh, konsep ini termasuk:
الطلاق المعلق
(al-ṭalāq al-mu‘allaq).

Fungsinya dalam konteks hukum Indonesia berkembang menjadi instrumen perlindungan isteri terhadap tindakan suami yang melanggar kewajiban rumah tangga.

Kaedah fiqhnya:
المسلمون على شروطهم
(al-muslimūn ‘alā syurūṭihim)
yakni setiap muslim terikat pada syarat yang disepakati selama tidak bertentangan dengan syara‘.

Asas terkait:

  1. Asas Pacta Sunt Servanda dalam hukum Islam.
  2. Asas Perlindungan Isteri.
  3. Asas Keadilan Rumah Tangga.
  4. Asas Kepastian Hak.

f. Harta Bersama atau Syirkah (الشركة / al-syirkah)

Konsep harta bersama dalam KHI merupakan hasil ijtihād kontekstual Indonesia yang memadukan fiqh dengan adat (‘urf). Dalam fiqh klasik, konsep gono-gini tidak dikenal secara eksplisit, namun dikonstruksikan melalui teori syirkah dan kontribusi bersama suami isteri.

Dasar ushul fiqhnya:
العادة محكمة
(al-‘ādah muḥakkamah)
yakni adat kebiasaan dapat dijadikan hukum.

Konsep ini juga berkaitan dengan:
تحقيق العدالة
(taḥqīq al-‘adālah)
yakni realisasi keadilan substantif dalam rumah tangga.

Asas terkait:

  1. Asas Keadilan.
  2. Asas Persamaan Kontribusi.
  3. Asas Kemanfaatan.
  4. Asas Perlindungan Ekonomi Keluarga.

g. Hadhanah (الحضانة / al-ḥaḍānah)

Hadhanah merupakan kewajiban pengasuhan, pemeliharaan, dan pendidikan anak hingga dewasa. Dalam fiqh, hadhanah bukan hanya hak orang tua, melainkan juga ḥaqq al-ṣaghīr (حق الصغير), yakni hak anak yang wajib dilindungi.

Kaedah fiqhnya:
تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة
(taṣarruf al-imām ‘ala al-ra‘iyyah manūṭun bi al-maṣlaḥah).

Prinsip utama hadhanah adalah:
مصلحة الطفل
(maṣlaḥat al-ṭifl)
atau kepentingan terbaik bagi anak.

Asas terkait:

  1. Best Interest of the Child Principle.
  2. Asas Perlindungan Anak.
  3. Asas Tanggung Jawab Orang Tua.
  4. Asas Kemaslahatan.

h. Perwalian (الولاية / al-wilāyah)

Perwalian merupakan kewenangan hukum untuk bertindak atas nama anak atau orang yang belum cakap hukum. Dalam fiqh, perwalian bertujuan menjaga:
النفس والمال
(al-nafs wa al-māl),
yakni perlindungan jiwa dan harta.

Konsep ini termasuk bagian dari maqāṣid al-syarī‘ah (مقاصد الشريعة), khususnya:
حفظ النفس
(ḥifẓ al-nafs)
dan
حفظ المال
(ḥifẓ al-māl).

Asas terkait:

  1. Asas Perlindungan Anak.
  2. Asas Kepentingan Terbaik bagi Anak.
  3. Asas Kecakapan Hukum.
  4. Asas Fiduciary Responsibility.

i. Khuluk (الخلع / al-khul‘)

Khuluk merupakan perceraian atas permintaan isteri dengan memberikan ‘iwaḍ (عوض) atau kompensasi kepada suami. Dalam fiqh, khuluk merupakan bentuk tafrīq (تفريق) yang lahir dari ketidakmampuan mempertahankan kehidupan rumah tangga secara harmonis.

Kaedah fiqhnya:
الضرر يزال
(al-ḍarar yuzāl)
yakni setiap mudarat harus dihilangkan.

Khuluk menunjukkan bahwa hukum Islam memberikan akses hukum bagi perempuan untuk keluar dari relasi rumah tangga yang tidak sehat.

Asas terkait:

  1. Asas Keadilan Gender.
  2. Asas Penghilangan Kemudaratan.
  3. Asas Kebebasan dari Penindasan.
  4. Asas Keseimbangan Hak Suami dan Isteri.

j. Mut‘ah (المتعة / al-mut‘ah)

Mut‘ah adalah pemberian kepada bekas isteri setelah perceraian sebagai bentuk ta’thīr al-qalb (تطيير القلب) atau penghiburan psikologis dan penghormatan moral pasca putusnya perkawinan.

Konsep ini berkaitan dengan:
الإحسان
(al-iḥsān),
yakni perlakuan baik dan bermartabat setelah perceraian.

Mut‘ah juga mencerminkan bahwa perceraian dalam Islam tidak boleh menimbulkan penghinaan, eksploitasi, ataupun perendahan terhadap perempuan.

Asas terkait:

  1. Asas Kepatutan.
  2. Asas Keadilan Pasca Perceraian.
  3. Asas Perlindungan Perempuan.
  4. Asas Kemanusiaan dan Kepantasan.

Secara keseluruhan, Pasal 1 KHI memperlihatkan bahwa hukum keluarga Islam di Indonesia dibangun tidak semata berdasarkan pendekatan tekstual terhadap fiqh klasik, melainkan melalui integrasi antara maqāṣid al-syarī‘ah, kebutuhan sosial masyarakat Indonesia, praktik peradilan, dan politik hukum nasional. Oleh sebab itu, KHI merupakan bentuk living Islamic law yang bergerak dari wilayah doctrinal fiqh menuju sistem hukum positif yang berorientasi pada keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum.